5 mins read
Digitalisasi Bisnis Jasa: Panduan Nyata Memulai Tanpa Harus Bangun Software Sendiri

Salah Kaprah Umum Tentang Digitalisasi di Bisnis Jasa
Banyak pemilik bisnis percaya bahwa digitalisasi berarti harus punya software sendiri. Mereka berpikir kalau belum punya sistem custom, bisnisnya belum modern.
Padahal, digitalisasi bukan tentang alatnya, tapi tentang cara kerjanya. Selama proses masih bergantung pada manusia untuk hal-hal yang bisa dijalankan otomatis, bisnis belum benar-benar digital, meskipun sudah punya aplikasi sendiri.
Sebagai seseorang yang sering membantu bisnis jasa bertransformasi, kami melihat satu kesalahan berulang: banyak yang langsung ingin membangun sistem besar, padahal belum tahu alur kerjanya sendiri.
Hasilnya, software selesai, tapi tidak ada yang mau pakai. Sementara masalah utama, seperti laporan telat, komunikasi tim lambat, atau data berantakan, tetap tidak terselesaikan.
Digitalisasi bisnis jasa seharusnya tidak dimulai dari software, tapi dari pemahaman tentang apa yang sebenarnya membuat tim kewalahan.
Kenapa Banyak Proyek Digitalisasi Justru Gagal di Tengah Jalan
Setiap tahun, ada ratusan proyek digitalisasi di Indonesia yang berhenti di tengah jalan. Bukan karena software-nya jelek, tapi karena arah implementasinya salah.
Tiga pola kegagalan yang sering terjadi:
1. Terlalu fokus pada teknologi, bukan proses. Sistem baru justru menambah beban karena workflow tidak disesuaikan.
2. Kurangnya persiapan tim. Tim tidak dilibatkan dalam desain sistem padahal mereka pengguna utama.
3. Tidak ada tahapan bertahap. Transformasi dilakukan sekaligus tanpa pilot test, menimbulkan chaos dan resistensi.
Sebagai founder, saya belajar satu hal dari proyek-proyek ini: digitalisasi yang gagal bukan karena kurang teknologi, tapi karena terlalu cepat ingin sempurna.
Dan justru, kesempurnaan itu muncul kalau bisnis mau mulai dari langkah kecil yang bisa diuji dan disesuaikan.

References
About Author

Exclolab Team
Post-maker

